Logo Tut Wuri Handayani Logo Dana Indonesiana Logo LPDP
Kategori Tradisi

Ragam Sastra Tutur Besemah

Mengenal berbagai bentuk, karakteristik, dan kesempatan bertutur dalam masyarakat dataran tinggi Besemah.

Sastra tutur adalah sastra yang langsung dituturkan, bukan ditulis. Bagi orang Besemah, ia hadir di panggung dan di percakapan sehari-hari: dalam rejung dan guritan, tetapi juga dalam tutur halus ketika menyampaikan maksud kepada orang lain. Wilayah Besemah memiliki sastra tutur yang paling beragam dibanding daerah lain di Sumatera Selatan.

Sastra tutur bisa disebut sebagai sastra yang langsung dituturkan, dan pada dasarnya tidak memakai alat musik. Sastra tutur juga bisa disebut cara bertutur: kate halus kate jeme baghi, perkataan halus orang-orang lama, agar maksud tersampaikan dengan sopan. Karena itu, sastra tutur hidup di panggung dan juga di percakapan sehari-hari.

Orang Besemah mengenal sundi singku, aturan untuk menjaga ucapan. Orang Besemah tidak boleh berkata kasar atau sembarangan kepada siapa pun. Aturan seperti ini mungkin menjelaskan mengapa banyak tuturan Besemah memakai kiasan dan sindiran.

Lima Kesempatan Bertutur

Geser ke samping untuk melihat seluruh pengelompokan ragam tutur.

Jenis yang Belum Ada di Koleksi

Sumber tertulis dan penutur menyebut jenis lain yang belum sempat kami rekam:

Betembang (dinyanyikan keras di hutan untuk mengusir sepi dan binatang buas) Ngicik panjang (senda gurau panjang penuh sindiran) Rimbai (pelipur lara saat sendirian, misalnya ketika memetik kopi) Tunil (sandiwara saat hajatan) Gurindam Kawin sardundun

* Ringit baru terekam sebagai contoh pendek dalam wawancara.